[Book Opinion] [INDONESIAN] A Tale Dark & Grimm – Adam Gidwitz

IMG_20150207_222359February Reading Challenge :

A Book written by someone under 30 – Adam Gidwitz, menurut wikipedia, mempublikasikan buku ini pada tahun 2010, sementara ia lahir pada tahun 1982; yang menjadikannya berumur 28 tahun saat mempublikasikan A Tale Dark & Grimm.

Judul Buku : A Tale Dark & Grimm
ISBN : 978-979-024-477-1

Penulis : Adam Gidwitz
Penerjemah : Khairi Rumantati
Cetakan : Pertama, Juni 2011
Penerbit : Atria
Jumlah Halaman : 224

Sebelum membaca buku ini, kuperingatkan :
Cerita ini bukan untuk anak-anak. Penyihir dengan matra keji, pemburu berdarah dingin, serta tukang roti yang memanggang anak-anak mengintip di halaman-halamannya.

Namun, jika kau berani, ikuti petualangan Hansel dan Gretel memasuki dunia penuh sihir, teror, dan sepercik kelakar yang berkilauan seperti kerikil putih di sepanjang jalannya.

Masuklah. Mungkin menakutkan, dan jelas-jelas penuh darah. Tetapi, tak seperti dongeng yang kau ketahui, yang ini sungguhan.

Dan kau tahu, dahulu kala, dongeng itu keren.

A Tale Dark & Grimm mengisahkan sepasang saudara kembar yang telah terkenal di dunia perdongengan sejak dahulu kala; Hansel dan Gretel. Pada A Tale Dark & Grimm terdapat beberapa dongeng singkat Grimm bersaudara yang jauh-jauh lebih kelam dan sadis dibandingkan dengan dongeng Grimm yang telah diketahui pada umumnya. Seluruh dongeng tersebut sebenarnya merupakan serangkaian kisah Hansel dan Gretel yang sambung menyambung; mulai dari asal usul kelahiran mereka, bagaimana mereka menemukan ‘rumah kue’ yang dimiliki oleh sang nenek sihir, hingga perjalanan yang mereka hadapi setelah pergi dari rumah sang nenek sihir tersebut.

Menurut A Tale Dark & Grimm, Hansel dan Gretel tidak pernah tersesat di hutan dan juga tidak pernah menaburkan roti di jalanan agar mereka dapat pulang kembali ke rumahnya. Mereka memang secara sengaja melarikan diri dari rumah mereka untuk mencari rumah baru, di mana terdapat orang tua yang benar-benar menyayangi mereka dan tidak akan ‘memenggal kepala‘ mereka dalam kondisi apapun. Namun sialnya, bukannya bertemu dengan orang tua yang lebih baik dari orang tua mereka, keduanya bertemu dengan seorang nenek sihir pemakan daging manusia. Setelah berhasil memasukkan sang nenek sihir ke dalam tungku dan melarikan diri, Hansel dan Gretel melanjutkan perjalanan mereka untuk menemukan rumah terbaik bagi keduanya.

Kurang tepat rasanya untuk menyebutkan A Tale Dark & Grimm sebagai sebuah tale; dongeng yang dituturkan oleh Adam Gidwitz. Cara penyampaian Adam Gidwitz yang unik kerap membuat saya bertanya-tanya apakah yang disampaikan oleh Adam Gidwitz ini adalah seperti yang sepenuhnya tertulis pada dongeng asli Grimm bersaudara. Adam Gidwitz seolah-olah hanya menuliskan kembali apa yang telah dibacanya, untuk kemudian ditambahkan komentar pada bagian-bagian tertentu. Komentar dari Adam Gidwitz tersebut jugalah yang membuat saya suka tak suka menambahkan nilai plus pada A Tale Dark & Grim ini. Komentar tersebut terasa menyegarkan, dengan komentar kritisnya yang dapat membuat saya berpikir “Ya. Saya setuju dengan pemikiran tersebut.” atau “Benar juga. Betapa bodohnya saya.”. Misalnya, seperti beberapa komentar favorit saya berikut ini :

“Tidak, tentu saja tidak bisa. Bulan bisa menyantap anak-anak dan jari bisa membuka pintu dan kepala orang bisa dikembalikan ke tempatnya.
Tapi, hujan? Bicara? Jangan konyol, ah.
Logika yang bagus, Gretel sayang. Logika yang bagus.”

atau

“Sehelai rambut emas dari kepala iblis.
Itu yang akan dia ambil, kan?
Ya, kan?
Salah! Apa kau sudah gila? Iblis pasti langsung terbangun! Lalu segalanya tamat sudah bagi Hansel, selama-lamanya.
Kuharap bukan itu yang kau duga akan Hansel lakukan. Jika itu dugaanmu, yah, semoga berhasil, deh, kalau suatu hari kau berakhir masuk neraka.”

atau

“Itu bukan cinta sungguhan, kau mungkin akan bilang begitu. Cuma cinta monyet.
Kau mungkin akan bilang begitu. Kalau kau berpendapat begitu, berarti kau sudah tua dan sama sekali tidak ingat bagaimana rasanya jadi anak-anak.”

Overall, A Tale Dark & Grimm, sekalipun disebutkan beberapa kali oleh Adam Gidwitz tidak cocok untuk anak-anak (dengan memberikan komentar seperti “Untuk anak-anak yang lebih kecil, kalau mereka masih ada, kuperingatkan padamu : Usir mereka. Jangan sampai mereka mendengar cerita ini. Mereka bisa mendapat mimpi buruk. Bukan, mereka pasti akan bermimpi buruk.“), menurut saya tidak juga dapat digolongkan sebagai bacaan YA (Young-Adult). Penyampaian yang dilakukan oleh Adam Gidwitz sangatlah sederhana; bahkan terlalu sederhana untuk saya yang menyukai detail, sehingga saya merasa penyampaian ini masih sesuai untuk anak-anak. Dikarenakan ceritanya yang kelam dan berdarah pada beberapa scene, mungkin A Tale Dark & Grimm ini cocok bagi anak-anak berusia 10tahun atau lebih, yang dianggap sudah cukup mengerti dan tidak takut akan kisah demikian, dibantu oleh sedikit bimbingan orang tua di samping mereka.

Rating : 6.5/10

Advertisements

2 thoughts on “[Book Opinion] [INDONESIAN] A Tale Dark & Grimm – Adam Gidwitz

  1. Pingback: [MASTERPOST] 2015 New Author Reading Challenge | The Seventh Heaven

  2. Pingback: [MASTERPOST] 2015 Reading Challenge – KPB (Book Hoarders Community) | The Seventh Heaven

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s