[Book Opinion] [Indonesian] Anak Kos Dodol – Dewi “Dedew” Rieka

10615555_1550114768600956_2880549185298735016_n

Februari Reading Challenge
a funny book

Judul Buku : Anak Kos Dodol
ISBN : (10)979-15501-6-6 (13)978-979-15501-6-1
Penulis : Dewi (‘dedew’) Rieka
Cetakan : Ketujuh, 2008
Penerbit : Gradien Mediatama
Jumlah Halaman : 189

 

 

Benar2 nyata. Benar2 dodol. Tapi juga benar2 bermakna. Buku haria yang memberi tawa ‘n perenungan.
– Ken Terate, Penulis Teenlit, Djokdja

Pengalaman ngekos emang selalu seru! So buku ini bisa jadi ‘bacaan nostalgia’ yang asik buat yang pernah ngekos, bisa juga jadi ‘bacaan menyenangkan’ buat yang ingin tau dunia kos lahir-batin, tapi juga bisa jadi ‘bacaan bimbingan’ cara ngekos yang baik dan benar buat yang ingin ngekos! Jadi mari kita ngekos bareng-bareng eh sory, maksudnya mari kita nikmati isi buku ini!
– Boim Lebon, Penulis Cerita Anak & Remaja, Produser TV, Jakarta

Asli, kocak banget! Nih buku pasti bikin semua anak kos terkenang-kenang masa-masa hepi, pas bokek, bebas merdeka en nonton VCD malam pertamanya! Hehehe… Kudu dibaca!
– Afny Yuandari, Karyawati Swata, penghuni kos 5 tahun, Bekasi

Seger banget. Awalnya, aku pikir bakal ngebosenin eh ternyata malah jadi ga bisa berhenti baca. Bikin gue mupeng, pengen ngekos bareng cewek-cewek dodol! Hohoho.
– Adhika Putra R, Dokter Muda Unpad, Jomblo Bahagia, Bandung

Menurut judul bukunya, saya membayangkan akan mendapatkan cerita mengenai pengalaman-pengalaman sang penulis; aka. Dedew, di kos-kosannya, bersama dengan anak-anak kos lainnya. Sayangnya, rupanya judul hanyalah sebuah judul saja; tidak selalu merepresentasikan isi atau inti dari buku tersebut. Pada beberapa kisah, saya mendapati cerita mengenai Dedew dengan lingkungan lain di luar kos-kosan. Sebut saja pada kisah [6] Maafkan Aku Nisa! yang menceritakan tentang sebagian masa lalu Dedew dan penyesalannya, atau kisah [7] Horee Naik Gunung! yang menceritakan pengalaman Dedew naik gunung dengan tim pecinta alam kampus. Tidak bahkan tertulis adanya keterlibatan anak kos-kosan lainnya selain Dedew.

Sebelum melanjutkan ke poin berikutnya, harus saya tegaskan bahwa saya tidak menyukai buku ini dari berbagai aspek- dan tentunya, ini adalah suatu penilaian subjektif saya. Siapapun diperkenankan untuk setuju ataupun tidak setuju. Sama halnya dengan ketika saya menyukai salah satu buku maka celaan seperti apapun tidak akan membuat saya berpikir ulang tentang kesukaan saya, pujian dan ketidaksetujuan apapun terhadap buku ini tidak akan membuat saya berpikir ulang. Hanyalah masalah selera, bagi saya. Oleh karena itu, jika ada penggemar buku ini yang singgah, anda dipersilakan untuk menutup halaman ini segera.

Berangkat ke poin berikutnya, adalah adanya perkenalan tokoh yang menurut saya tidak perlu dilampirkan ke dalam buku Anak Kos Dodol. Ini adalah sebuah buku yang- menurut saya, bukan komik dan tidak membutuhkan perkenalan tokoh semacam itu (bahkan pada komik sekalipun tidak ada perkenalan tokoh sebelum buku memasuki jilid kedua. Gunanya pun hanya sebagai reminder atas jilid sebelumnya). Tidak perlu gambar dan deskripsi ‘cantik, bodi maut, dst dst…’. Saya lebih senang ketika penulis menyampaikan tokohnya di dalam cerita dengan deskripsi yang tepat. Memang, itu dapat dikatakan adalah gaya yang dipilih sang penulis untuk menyampaikannya pada awal buku. Namun demikian, sayangnya saya bahkan tidak dapat melihat ‘kegunaan’ dari dipampangnya tokoh-tokoh tersebut. Masalahnya adalah, saya masih tidak menemukan beberapa tokoh yang nyatanya menjadi ‘tokoh utama’ di salah satu cerita pendek pada buku tersebut. Sebut saja pada kisah [2] Ulang Tahun Ke-20, yang mengisahkan ulang tahun salah seorang penghuni kos. Disebutkan bahwa nama penghuni yang berulang tahun adalah Kayla, namun saya tidak berhasil menemukan nama tersebut di perkenalan tokoh. Sebaliknya, saya menemukan adanya beberapa nama yang bahkan tidak tersebut sama sekali di dalam buku Anak Kos Dodol tersebut. Saya tidak tahu peran tokoh tersebut apa, dan mengapa ia harus dicantumkan di perkenalan tokoh (Jujur, saya lupa siapa nama penghuni yang tak disebut sama sekali. Kalau memang saya salah, silakan dikoreksi dengan mencantumkan tokoh A terdapat pada kisah X untuk tokoh yang diperkenalkan di depan.).

Poin berikutnya, yang juga sebagai alasan utama mengapa saya tidak menyukai buku ini, adalah tidak ditemukannya sesuatu yang ‘menggelitik’ saya. Genre buku ini adalah humor- kalau saya tidak salah. Atau salah? Namun apa yang tertulis di dalam buku ini terasa… hambar dan datar untuk saya. Tidak terasa lucu, tidak juga menegangkan, ataupun ‘relatable’ dengan saya; yang notabene juga merupakan salah satu eks penghuni kos selama lima tahun sebelum pulang ke rumah tercinta. Saya tidak tahu apakah karena tidak ada ‘anak kos dodol’ di kos saya, atau karena perbedaan budaya, atau hal-hal lainnya, tapi tidak sekalipun terkenang kesamaan atau keterkaitannya dengan kehidupan ngekos saya. Oke, ada tradisi lempar telur dan tepung saat ulang tahun; tapi itu bukan tradisi anak kos. Itu tradisi yang sudah ada sejak jaman sekolah, bukan di kos-kosan pula.

Inti cerita di buku Anak Kos Dodol ini adalah… kehidupan sehari-hari yang dialami oleh sang pengarang; Dedew. Bukan, bukan tentang kos-kosan, tapi kehidupannya secara general saja. Mulai dari kisahnya berpacaran, bertengkar dengan teman, menulis skripsi, dan lain sebagainya. Ada juga beberapa kisah di kos-nya, seperti tradisi ulang tahun, tradisi tidur bersama karena kos-nya sering didatangi hantu secara musiman, dan lain sebagainya.

Inginnya membahas gaya menulis Dedew juga, namun saya tidak tahu apa yang harus dibahas sebenarnya. Bagi orang yang menyukai bacaan ringan, mungkin gaya bahasa ini cocok. Dedew menuliskan cerita Anak Kos Dodol dengan bahasa yang santai dan sama sekali tidak baku; yah, benar-benar seperti membaca entry blog yang mengisahkan pengalaman pribadi saja.

Seperti kutipan dari buku di bawah ini :

Oh my God! Cewek keriting ini asyik ngeliatin puser bodong Cynthia! Oo… Oo… Aku hapal gaya dia!
……
Tidaaak!
……
Ssst… sst. Eh, si sableng tidak ngeh.

atau :

“Kau yang mulai, kau yang mengakhiri…” ratapku penuh derita ala Evie Tamala tiap hari di depan kamar *eh, lagu siapa yak? Ih, meni gelo! Anak-anak bergidik mengguncang tubuhku. Eling… Dew… eling… hahaha.

Rating saya : 4/10. Buku humor seperti ini tampaknya not a cup of my tea; no offense ya.

Advertisements

One thought on “[Book Opinion] [Indonesian] Anak Kos Dodol – Dewi “Dedew” Rieka

  1. Pingback: [MASTERPOST] 2015 Reading Challenge – KPB (Book Hoarders Community) | The Seventh Heaven

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s