[Book Opinion][Indonesian] Manxmouse – Paul Gallico

10806325_1550114575267642_5789773166011967309_nFebruary Reading Challenge:
A book with non human characters

Judul Buku : Manxmouse
ISBN : 978-602-97067-3-4
Penulis : Paul Gallico
Penerjemah : Maria Lubis
Cetakan : Pertama, April 2011
Penerbit : MKF (Media Klasik Fantasi) – Mahda Books
Jumlah Halaman : 227

Manxmouse adalah tikus tak berekor. Telinganya panjang seperti kelinci, dan seluruh tubuhnya berwarna biru. Ramalan Hari Akhir yang ditulis oleh penyihir berkata nasibnya akan berakhir sebagai santapan Kucing Manx.

Dalam pelariannya, Manxmouse mengalami petualangan hebat! Ia bertemu Kapten Hawk si elang, Hantu Clutterbumph, Nelly si gajah bintang film, dan lainnya.

Manxmouse akhirnya memutuskan untuk tidak lagi takut dan terus-menerus melarikan diri. Dia akan menghadapi Kucing Manx yang telah lama menunggunya dan menghampiri nasib dengan gagah berani! Apakah Manxmouse bakal dapat mengubah ramalan Hari Akhir?


“Buku yang sangat menarik. Gallico menjalin fantasi dan realitas dengan sangat terampil, sehingga kisah yang paling fantastis sekalipun terasa masuk akal.”

J.K. Rowling (Penulis buku Harry Potter)

Tertipu. Atau ditipu- tepatnya demikian.
Sebelum berkomentar lebih lanjut atau meluncurkan berbagai aksi protes, biar saya perjelas terlebih dahulu.
Hingga pada saat kata ini tertuang, tidak sekalipun tercetus bahwa Manxmouse tidak semenarik kelihatannya, atau Manxmouse tidak worth-it untuk dibaca, atau pernyataan sejenis lainnya. Secara sederhana, saya menyatakan diri saya tertipu- atau ditipu; karena apa yang katanya akan saya temukan tidaklah sesuai dengan apa yang benar-benar tertuang di dalam buku tersebut. Tertulis pada ekstrak cerita “Dalam pelariannya, Manxmouse mengalami petualangan hebat!”. Sementara apa yang saya peroleh saat membaca Manxmouse bukanlah sebuah pelarian- melainkan sebuah petualan tanpa arah dan tujuan pasti.

Manxmouse pada dasarnya terbagi-bagi menjadi dua belas cerita pendek mengenai petualangan Manxmouse hingga akhirnya ia memutuskan untuk mencari Kucing Manx. Sebagian cerita-cerita pendek tersebut seolah-olah merupakan cerita lepas yang tidak ada kaitannya satu sama lain; kecuali setiap cerita tersebut memiliki tokoh utama yang sama, Manxmouse. Keterkaitan di antara cerita tersebut hanyalah kegusaran Manxmouse yang kian menjadi di setiap akhir cerita, dikarenakan setiap hewan dan bahkan manusia mengetahui bahwa ia berakhir sebagain santapan Kucing Max.

Kisah Manxmouse dalam buku ini diawali dengan bagaimana seekor tikus bertelinga kelinci, berbulu biru, dan tidak berekor dapat terlahir ke dunia. Ingat kisah klasik berjudul ‘Pinokio’? Ya, kurang lebih sama seperti itu. Seorang pengrajin kayu yang tanpa disadarinya membuat suatu karya yang kemudian hidup dan menjadi sesuatu yang nyata. Namun yang membedakannya adalah apabila Pinokio tetap tinggal bersama penciptanya, maka Manxmouse kabur dari penciptanya di tengah-tengah kebingungannya. Semenjak kabur dari penciptanya itulah Manxmouse bertemu dengan hewan dan manusia lainnya, yang masing-masing memberikannya petualangan unik tersendiri.

Menurut saya pribadi, Paul Gallico telah menceritakan kisah Manxmouse dengan cukup baik dan sesuai untuk anak-anak. Tidak ada deskripsi yang terlalu mendetail; yang mungkin akan membuat anak-anak merasa bosan untuk membaca suatu deskripsi. Meskipun demikian, alur dan tempo cerita yang disuguhkan oleh Paul Gallico pada cerita itu juga terasa tepat; tidak melompat-lompat dari satu adegan ke adegan lainnya, juga tidak terasa terlalu cepat dari seharusnya.

Ya, memang kurang detail jika diperuntukkan untuk remaja atau orang dewasa. Dan ya, mungkin juga kurang terasa klimaks dari cerita ini; sampai saya benar-benar berpikir ‘Sudah? Hanya begini saja?’ saat membaca penyelesaian masalah pada buku ini. Namun rasanya, hal tersebut dapat dipahami dan dimaklumi mengingat cerita ini ditujukan bagi anak-anak. Biar bagaimanapun juga, cerita anak harus ditulis sesuai dengan kapasitas dan kemampuan anak pada umumnya untuk dapat memahami bacaan tersebut.

Mungkin saya memang tidak berjodoh dengan buku anak. Sama seperti buku anak sebelumnya yang telah saya baca; A Tale of Dark and Grimm, tidak terasa adanya suatu greget atau rasa penasaran ketika membaca Manxmouse. Saya membaca Manxmouse hanya untuk menyelesaikannya saja, bukan untuk mengetahui bagaimana dan apa yang akan terjadi pada ceritan tersebut Bukan berarti jelek, karena saya mengakui cara Paulo Gallico menuliskan ceritanya sangatlah baik. Ini hanyalah masalah ketidakcocokan dan… ya, saya memang tidak berjodoh dengan yang satu ini.

Rating? 8/10. Karena kesubjektifan saya, yang meyatakan tidak adanya greget, saya rasa tidak sebaiknya diikut seratakan mengingat itu adalah masalah selera.

Advertisements

2 thoughts on “[Book Opinion][Indonesian] Manxmouse – Paul Gallico

  1. Pingback: [MASTERPOST] 2015 New Author Reading Challenge | The Seventh Heaven

  2. Pingback: [MASTERPOST] 2015 Reading Challenge – KPB (Book Hoarders Community) | The Seventh Heaven

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s