[Book Opinion] [Indonesian] Lukisan Hujan (Hanafiah #1.Revised Edition) – Sitta Karina

March Reading Challenge : A book by a female author
This is from one of my favorite local author! Sadly I found no English version of this so… I’ll write my opinion in Bahasa.

ISBN : 9786028740425
Publisher : Literati Books
Number of pages : 546

Berantakan sudah hidup Diaz Hanafiah, cowok dingin berdarah Indonesia-Meksiko. Setelah selama ini dirinya merasa tidak nyaman berada di antara para sepupu yang kaya, berada, dan bagian dari socialite Jakarta, ternyata pacarnya yang cantik, Anggia, juga mengkhianatinya.

Lalu datang Sisy. Mungil, cantik, dan masih duduk di bangku SMA.

Seperti siraman air dingin yang menyejukkan sekaligus mengejutkan, Diaz terpesona dengan kepolosan—dan ketulusan—teman barunya, dan pada saat bersamaan menyadari: mungkin ia tidak setulus itu. Mungkin ia memiliki agenda lain.

Mungkin bersama Sisy, ia jadi mampu bersikap lebih hangat kepada wanita. Kekurangan yang selama ini melekat pada dirinya—dan selalu Anggia keluhkan.

Saya memang tidak begitu ingat cerita Lukisan Hujan edisi lama yang sudah saya baca sekitar 7 atau 8 tahun yang lalu. Namun, membaca kembali Lukisan Hujan edisi revisi ini seolah-olah membaca buku yang belum pernah saya baca sebelumnya. Tidak terasa familiar, tapi masih terasa sama gregetnya dengan edisi lama (walaupun, sekali lagi saya katakan, saya sudah lupa ceritanya). Karena penasaran, saya coba mengecek Lukisan Hujan edisi lama secara sekilas untuk membandingkannya. Sepenglihatan saya, garis besar ceritanya masih sama. Bab 1nya pun masih terasa mirip. Tapi rupanya sangat banyak yang dirombak oleh Sitta Karina seiring berjalannya cerita, dan dua jempol untuk usahanya itu. Karena saat edisi revisi ini keluar, saya pesimis dan merasa penambahan adegan hanya strategi marketing untuk menambah jumlah pembeli (agar pembeli lama yang senang dengan buku tersebut kembali membeli edisi revisi). Namun rupanya usaha Sitta Karina tidak setengah-setengah karena Lukisan Hujan ini terasa seperti ditulis ulang sepenuhnya. Sangat banyak adegan yang diperdalam- dibuat lebih detail, ditambahkan, dan banyak juga percakapan yang dibuat lebih nyaman untuk dibaca.

Oke. Masuk ke isi buku itu sendiri, overall saya merasa puas membaca buku Lukisan Hujan edisi revisi ini. Sitta Karina, seperti biasanya, berhasil membawakan cerita ini menjadi nyaman untuk dinikmati; terasa gregetnya, terasa sedihnya, dan terasa tegangnya. Sekalipun ide cerita Lukisan Hujan terasa standar dan tidak istimewa, menurut saya Sitta Karina dapat membawakannya dengan istimewa.

Mungkin banyak orang yang menganggap alur ceritanya terlalu lamban, terlalu sederhana untuk sebuah novel sepanjang 550 halaman. Namun bagi saya, alur cerita demikian sangatlah tepat. Bukannya saya menyukai alur yang lamban, tapi saya dapat menikmati tahapan demi tahapan dalam perkembangan hubungan Diaz dan Sisy; yang jadi tidak terasa instan dan cepat. Dari buku ini, saya mendapatkan sesuatu yang biasanya tidak terdapat pada buku-buku lainnya; cinta yang datang bertahap karena kebersamaan dan kecocokan mereka. Tidak ada ketertarikan berlebih satu sama lain, dan tidak ada pula kebencian satu sama lain. Sesuatu yang bagi saya berbeda dengan buku teenlit pada umumnya (yang mana biasanya salah satu pihak akan berusaha untuk membuat pihak lain jatuh cinta, atau salah satu pihak sangat membenci pihak lain sampai ke ubun-ubun). Yah, walaupun gregetan juga melihat orang ke-3, 4, dan 5 di dalam hubungan mereka terkadang. Untuk endingnya, akan saya simpan saja karena ending itu bagian yang paling bagus untuk dinikmati sembari membaca bukunya. Unexpected ending. Itu saja yang saya katakan.

Di samping itu, saya juga cukup menyukai perkembangan karakter yang dialami Diaz dan Sisy. Diaz, sosok dingin namun temperamen yang belajar sedikit demi sedikit untuk menahan emosinya; untuk tidak bertindak berdasarkan temperamennya. Dan Sisy, sosok mungil (?) yang -menurut saya- cukup egois namun tidak bisa mengatakan tidak, juga belajar sedikit demi sedikit untuk tidak bersikap egois (walau kadang dengan cara yang salah) dan mengatakan tidak. Selain Diaz dan Sisy, karakter Igo juga terasa nyata. Seorang sahabat yang tidak selfless dan memiliki keegoisannya sendiri- keinginan untuk mendapatkan apa yang diminatinya; terasa tidak mengada-ada. Biar bagaimanapun juga, sahabat adalah manusia juga (walau kadang sikap Igo dan keegoisannya dengan bekerja sama dengan Anggia membuat saya ingin menendangnya jauh-jauh).

Bicara tentang tokoh, tentunya saya harus setuju dengan pendapat banyak orang mengenai kaum socialite Hanafiah yang terasa sangat ‘hiperbol’; memiliki jet pribadi yang dapat digunakan untuk menjemput anak yang pulang ke Indonesia dari US, bersanding dengan perancang papan atas dunia, diundang ke white house- atau intinya : dikenal seluruh dunia hanya bahkan dari nama keluarganya saja dan juga… super boros; terasa sangat tidak real dan mustahil. Yah, walau saya tidak tahu sama sekali bagaimana kehidupan kaum socialite juga. Toh, Syahrini juga bisa kenal dan berfoto dengan Paris Hilton. #ups, melenceng dari topik.
Tapi sebenarnya, who cares? Saya tidak merasa itu menjadi suatu kekurangan- agak aneh ya, mengingat saya biasanya senang sesuatu yang mendekati realitas. Sebaliknya, saya lebih merasa terkesima dan berandai-andai apabila keluarga tersebut nyata adanya; keluarga yang begitu besar, populer, berkelimpahan, tapi juga solid, saling membela, saling melindungi, dan saling menyayangi satu sama lainnya. Pasti memang sangat WOW berada di kalangan keren seperti itu. #lagi-lagi salah fokus.

Dan… masih bicara dengan tokoh, saya masih sangat-sangat suka dengan si Hanafiah yang playboy, dingin, penuh misteri dan agenda tersendiri, serta angkuh- tapi juga menunjukkan perhatiannya dengan berjuta cara pada sepupu-sepupunya; keluarganya (walau kadang juga dengan cara yang salah dan tidak tepat). Siapa? Hmmmmm. Siapa lagi, Nara Hanafiah. Salah satu perbedaan signifikan antara Lukisan Hujan versi lama dan baru adalah banyaknya porsi Nara di dalam buku ini. Saya tidak ingat apakah Nara berperan penting juga di dalam versi lama atau tidak, namun berhubung di sini Nara terasa memiliki porsi yang relatif lebih banyak dan penting, saya sebagai fans(?)nya tentu senang dengan perkembangan ini.

#uhuk Saya cukup yakin kalau review ini dilanjutkan, maka akan semakin banyak penilaian subjektif dan mungkin tidak terlalu penting yang akan tersampaikan (seperti siapa tokoh favorit saya). Jadi rasanya disudahi saja di sini reviewnya- dengan kesimpulan bahwa Lukisan Hujan adalah sebuah teenlit yang (menurut saya) tidak mainstream, dengan alur yang lambat namun mengalun dengan tepat, penokohan yang kadang terasa tidak real namun tampak menyenangkan untuk diikuti, dan ending yang tak terduga. 5 bintang untuk edisi revisi ini dari saya.

Advertisements

2 thoughts on “[Book Opinion] [Indonesian] Lukisan Hujan (Hanafiah #1.Revised Edition) – Sitta Karina

  1. Pingback: [MASTERPOST] 2015 Read Big Challenge | The Seventh Heaven

  2. Pingback: [MASTERPOST] 2015 Reading Challenge – KPB (Book Hoarders Community) | The Seventh Heaven

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s