[Book Opinion] [Indonesian] Pesan dari Bintang (Hanafiah #3) – Sitta Karina

March Reading Challenge – A book by a female author

ISBN : 9793750146
Publisher : Terrant Books
Number of pages : 460 pages

“Some people say that in friendship we share everything! laugh, pain, stories.. and secrets. Even the darkest one.”

Dari New York City sampai ke Jakarta, dalam masa 5 tahun yang indah walau keduanya berasal dari keluarga dengan latar belakang yang berbeda, Nikratama Zakrie dan Inez Hanafiah selalu bersama. Sebagai sahabat tentunya. Dan hanya dalam masa senang saja mereka berbagi.

Lalu hadir orang lain di dalam kehidupan Inez, serta Alika dan Dilla (keduanya adalah sahabat Inez sendiri, by the way) yang juga mengambil tempat di hati Nikratama atau Niki.

Dr. Mutia, sang psikiater muda yang Inez kenal, juga ternyata memiliki hubungan khusus dengan Niki. Di lain sisi, kakak Niki memastikan bahwa antara dirinya dan Inez tengah terjadi “sesuatu”. Belum lagi Austin Hanafiah yang entah kenapa tidak menyukai Niki, dan Chris Hanafiah yang justru tergila-gila pada cowok ini!

Saat jam pasir itu terus bergulir, dan Inez menoleh…
Ia tertegun lama; sejak kapan sahabatnya ini terlihat begitu menarik, begitu tertutup…
Begitu berbahaya.

Inez pusing setengah mati. Dan Niki semakin tidak terjangkau.
Ketika dihadapkan pada suatu masalah yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya, beranikah mereka berdua tetap saling menyapa, tanpa memalingkan wajah sama sekali? Atau Inez memilih untuk mundur setelah mengetahui penyebab tubuh Niki kini penuh luka?

Okay… finally done reading this! (with a super-duper-ultra-high-speed)

Pesan dari Bintang. Entah sudah berapa tahun saya berlalu lalang; bertanya ke sana kemari demi mencari sebuah judul ini saja. Damn. Saya masih ingat saat dahulu buku ini masih bertengger manis di Gramedia dan seakan-akan memanggil saya; tapi karena tidak begitu menyukai teenlit, saya pun tak menggubrisnya. Siapa sangka akhirnya akan membutuhkan waktu yang lama dan kocek berlebih untuk mendapatkan buku ini? Yah, walaupun sebenarnya saya bisa saja memilih untuk menunggu- katakanlah; 2 ataun 3 tahun untuk cetak ulangnya.

Oke, mari masuk ke dalam isi buku ini (walaupun saya ingin mengomentari cover buku ini yang tampaknya salah cetak sehingga gambarnya berbayang; dan saya tidak bahkan dapat membaca tulisan di covernya- *sighs* lupakan.).

Pertama-tama, seperti biasanya saya harus mengacungkan jempol untuk penuturan dan kemampuan merangkai kata Sitta Karina. Saya juga tidak tahu kenapa, sebenarnya. Padahal kalau dilihat, padanan kata yang digunakan tidaklah istimewa; tidak sophisticated, tidak glamour. Sederhana, tapi mengena. Walaupun… yah, di buku ini terlalu banyak sisipan bahasa spanyolnya. Terlalu banyak, sampai kadang-kadang saya pun melewatnya dan membaca artinya saja. Yah, mungkin itu dikarenakan Niki dan Inez sudah mengenal satu sama lain selama lima tahun; membuat Niki mampu mengikuti Inez yang berasal dari keluarha Hanafiah, yang saya amati sering melontarkan bahasa spanyol. Tapi tentunya, tidak fullnya bintang yang saya beri bukan karena hal tersebut. Saya masih dapat senyum-senyum, terkikik, tertawa, frustasi, bahkan menangis sendiri saat membaca buku ini. Saya bahkan menggerutu ketika saya diajak bicara selagi asyik tenggelam di dunia Niki dan Inez ini. And that’s an absolutely good sign!

Kedua, mengenai plotnya sendiri. Membaca Pesan dari Bintang, bagi saya, seperti membaca versi kompleks dari Lukisan Hujan. Dua orang yang bersahabat dan jelas-jelas menganggap penting satu sama lain, yang memilih untuk bersembunyi di balik kata “sahabat” untuk perasaan dan keinginan mereka berada di dekat satu sama lain. Klise? Ya. Ya, benar. Ya, sangat. Namun demikian, siapa sangka di balik itu terdapat beragam rahasia-rahasia besar yang disembunyikan oleh keduanya? Tidak seperti Lukisan Hujan yang lebih menonjolkan proses bersatunya Diaz dan Sisy [and how not everything can ended up sweetly], Pesan dari Bintang ini membongkar rahasia kelam di balik sosok Nikritama Putra Zakrie (mostly). Oke, mungkin banyak adegan dan scene yang seperti sinetron [; Inez yang berkali-kali hampir diperkosa, Niki yang mengalami gangguan mental, Inez yang kabur dari rumah ke Kroasia, Niki yang diculik Rifas, dan seterusnya], dan menjadi satu-satunya kekurangan buku ini (Yap. Minus satu bintang adalah untuk terlalu banyak masalah yang timbul- SAJA. Selebihnya oke, kok.). Kecepatan plotnya sendiri bisa dibilang… tepat. Saya tidak merasa ini terlalu lambat, mungkin karena masalah selalu muncul dengan segera sebelum masalah sebelumnya selesai. Dan saya sarankan, bersiap-siaplah untuk mengalami emosi yang naik turun seperti roller coaster ketika membacanya; sebentar sweet, sebentar sedih, sebentar mengesalkan. Yang pasti, seru untuk diikuti.

Nah, mengenai karakter dari Inez dan Niki sendiri. Membaca buku Hanafiah lain, entah mengapa membuat saya membayangkan kalau Niki ini karakter cool dan cuek, sementara Inez karakter perempuan yang dewasa dan kalem- sama kalemnya dengan Niki. Namun rupanya, dugaan saya selama ini salah! Niki tidak cool, melainkan usil. Dan Inez tidaklah kalem dan dewasa; ia childish, egois, dan manja. Seperti yang diungkit berkali-kali di buku, mungkin kalau saya melihat orang seperti Inez pun akan berpikir ia bagaikan seorang ‘Paris Hilton’. Hidup glamour namun tidak tampak memiliki ‘kecerdasan’ tertentu dan hanya terlihat bersenang-senang sepanjang hari. Sebenarnya, agak lega juga melihat ada seorang Hanafiah ‘normal’; dalam artian tidak seperti manusia super yang kaya dan berkelakuan baik (dan/atau) memiliki otak yang sepadan, seperti banyak Hanafiah lainnya- walaupun saya menyukai fakta tersebut. Perkembangan karakter dalam buku ini pun sama seperti buku Lukisan Hujan; keegoisan Inez yang di awal buku tampak jelas [seperti ketika ia cemburu buta mengetahui Niki berpacaran dengan ‘musuh’nya], perlahan-lahan luntur seiring waktu, dan ketertutupan Niki pun perlahan luntur seiring waktu dan keadaan (yang sebenarnya memaksa).

Soal karakter favorit, Nara! Ga perlu saya selalu menyebutkan di setiap review Hanafiah saya, kan? *senyum-senyum malu* Saya suka karakter Nara, dan semakin suka setelah selesai membaca Pesan dari Bintang ini. Blak-blakan, lembut pada Hanafiah lainnya, dan siap mengotori tangannya demi Inez; namun juga tetap angkuh, cuek, dan super PD dengan pesonanya [ bahkan sampai berani berkeliaran di area fashion show dengan telanjang dada *tepok jidat*].

So, overall? 4 bintang. Bacaan kompleks yang lebih kelam dan menegangkan (dibanding Lukisan Hujan)- bahkan terkadang terlalu sinetron, namun juga sweet dan menyenangkan untuk diikuti; dengan karakter cowok Hanafiah yang tentunya masih cool, tokoh utama yang stabil dalam hubungan mereka sekaligus tidak stabil atas perasaan mereka. Fun and enjoyable! Tidak sabar untuk menanti edisi revisinya dan melakukan re-read (juga re-review, kalau perlu).

Salah satu adegan atau penulisan yang sukses buat saya cekikikan geli (note : selera humor saya beda dari orang kebanyakan, sebenarnya) :
“Nggak heranlah kalau semua cowok yang melintas dekat Inez sedikit banyak pada menoleh. Yang paling ekstrim, sampai kejedot pohon segala. Bayangkan! Pohon segede itu… bisa-bisanya ngga keliatan!”

Advertisements

One thought on “[Book Opinion] [Indonesian] Pesan dari Bintang (Hanafiah #3) – Sitta Karina

  1. Pingback: [MASTERPOST] 2015 Reading Challenge – KPB (Book Hoarders Community) | The Seventh Heaven

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s