[Book Opinion] [Indonesian] Shopaholic #2 : Shopaholic Abroad – Sophie Kinsella

ISBN : 9789792203226
Publisher : PT Gramedia Pustaka Utama
Translator : Siska Yuanita
Number of pages : 496

Bagi Rebecca Bloomwood, hidup ini sunggup mudah. Ia muncul setiap pagi di TV, manajer banknya sangat baik hati, dan soal belanja, motonya adalah Hanya Beli Apa Yang Kauperlu – dan ia sungguh-sungguh mematuhinya!(Kira-kira begitulah). Dan hidupnya lebih sempurna ketika kekasihnya, Luke Brandon yang terkenal, menawarinya kesempatan untuk bekerja di New York.

Astaga, New York! Di sana kan ada banyak tempat belanja hebat seperti Saks atau Bloomingdale’s. Atau Barney’s. Dan obral-obral sampel misterius tempat kau bisa mendapatkan gaun Prada seharga seratus dolar, ya? Ha, rasanya dolar bukan uang sungguhan, rasanya seperti main monopoli.

Buku kedua yang saya baca dari seri Shopaholic; sekaligus buku ketiga karya Sophie Kinsella. Entah mengapa, sepertinya gaya penulisan Sophie Kinsella pada seri Shopaholic dan Can You Keep A Secret? cukup berbeda. Membaca buku standaloneSophie Kinsella, saya dapat dengan mudah masuk dan menikmati ceritanya. Lain halnya dengan seri ini. Saya merasa kalau alur yang digunakannya sangat lambat dan menguji kesabaran- entah memang lambat atau gaya bahasanya yang kurang nyaman bagi saya, membuat saya selalu bertanya-tanya apakah saya akan memiliki mood untuk membaca buku-buku berikutnya. Setengah buku selesai saya baca, rasanya permasalahan inti terdapat pada Becky dan hutang-hutangnya yang kini lebih besar karena kesuksesannya membuat ia menjadi semakin konsumtif. Bahkan ketika ia sudah terbang ke New York, itulah yang saya dapatkan pada berlembar-lembar tulisan; bahwa Becky menghambur-hamburkan uangnya- terus menerus, seolah-olah memiliki dana tak terbatas.

Oke. Oke, saya mungkin bohong. Ada juga kok masalah-masalah lain yang tak kentara; bahkan membuat saya sedikit iba pada kehidupan Becky. [Sebutlah, ketika Tom menikah dan semua orang menganggap Becky berbohong dengan mengatakan berpacaran dengan Luke. Mereka bahkan menuduh Becky naksir Tom, apapun yang ia katakan. Mengerikan sekali.] Klimaksnya justru terjadi setelah lebih dari setengah buku saya lahap (kalau saya tak salah ingat). Tiba-tiba semuanya hancur berantakan. Pekerjaan Luke di New York (yang menjadi alasan pertama mengapa mereka ke sana) hancur, begitu pula karir Becky yang baru saja akan dimulai. Bahkan Becky harus rela bertengkar besar-besaran dengan Luke. Semuanya karena satu hal saja; obsesi Becky untuk berbelanja. Tanpa memiliki uang- dan pekerjaan, bagaimana mungkin Becky dapat mengatasi semua itu?

Yah, itulah klimaksnya. Sangat disayangkan anti klimaks berlangsung dengan cukup cepat. Setelah Becky sedih dan murung selama beberapa hari tanpa harapan, akhirnya ia pun bangkit dan memiliki sebuah ide ‘brilian’ untuk mengatasi semuanya dengan segera. Ide apa? Tidak seru tentunya kalau saya ceritakan. Hehehehe.

Mengenai karakteristik sendiri, di sini saya jadi mengetahui lebih banyak mengenai Luke Brandon; yang pada buku pertama tidak terlalu banyak dibahas. Sosok dingin yang gila bekerja dan sangat ingin membanggakan ibu kandungnya. Kadang saya pun rasanya ingin mencabik-cabik sosok Luke ini ketika ia tidak banyak mendukung dan hadir di samping Becky saat ia membutuhkannya. Sementara, Becky Bloomwood dapat dikatakan tidak berubah dari buku pertamanya. Ia masih shopaholic tak terkendali- sekalipun ia pun ‘berusaha’ untuk meminimalisirnya, dililit hutang, dan tidak mempedulikan peringatan bank dan tagihan lainnya. Serius, saya benar-benar benci dengan karakter Becky yang tampak konyol dan tolol itu; yang belanja tanpa menghitung keuangannya; yang belanja hingga dililit hutang begitu besar. Namun pada akhir cerita, anehnya, setelah ia melakukan penyelesaian terhadap seluruh masalahnya, saya tak bisa membencinya lagi. Aneh.

Oh ya, OOT. Terlepas dari tujuan buku ini yang nyatanya hanya untuk menghibur; dengan menghiperbolakan tokoh Becky menjadi sosok absurd yang tidak masuk akal, rasanya buku ini perlu dirating dan diperhatikan lebih baik mengenai- penyebaran dan pembeliannya? Mungkin saya terdengar paranoid, namun saya membacanya sendiri pada salah satu komentar mengenai buku ini. “Melihat Becky, saya seolah-olah diberi harapan. Tidak apa-apa membuat kesalahan. Tidak apa-apa kalau sampai terlilit hutang. Tidak apa-apa kalau sampai merusak segalanya. Kita dapat mengulang semuanya kembali dari awal.” Hey, menurut saya itu pandangan salah! Mau apa jadinya kalau pola pikir manusia terbentuk seperti itu? Merasa tidak masalah menghabiskan uang sia-sia karena- apa? Karena semua dapat diulang dari awal? Oh come on, jangan bermental seperti itu. Dipikirnya mengulang dari awal itu pekerjaan mudah; dipikirnya keberuntungan seperti pada sebuah karya FIKSI mudah terjadi?

Oke, sebelum saya bersungut-sungut lebih jauh, disudahi di sini saja reviewnya. 🙂 Buku bacaan ringan dengan alur yang lambat dan karakter-karakter yang (sejujurnya) agak annoying, namun juga dengan penyelesaian yang wah dan cukup memuaskan. Bintang 3.5, namun minus 0.5 untuk kesan yang dapat dengan mudah salah ditafsirkan oleh pembaca tertentu (seperti pada poin review terakhir yang OOT).

Advertisements

One thought on “[Book Opinion] [Indonesian] Shopaholic #2 : Shopaholic Abroad – Sophie Kinsella

  1. Pingback: [MASTERPOST] 2015 Reading Challenge – KPB (Book Hoarders Community) | The Seventh Heaven

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s